Politik itu jalanmu? atau hanya loncat-loncat.






Politik, Aristoteles dan Jakarta
Kali ini biarkan saya membahas
tentang politik, hal yang paling menarik untuk dibicarakan saat ini. Apalagi ketika
kita melihat situasi Politik pada Pemilihan kepala daerah DKI jakarta 2017
(Pilkada DKI Jakarta) yang begitu dinamis, dan menjadi perhatian hampir seluruh
warga Indonesia dan dunia.
Saya tidak akan menjelaskan
secara etimologi apa arti politik, namun secara singkat teori klasik dari
Aristoteles memberikan pengertian Politik adalah usaha yang ditempuh warga
negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (https://id.wikipedia.org/wiki/Politik
).
Mengapa saya mengenal Politik
Tumbuh dan berkembang pada
transisi dari orde baru menuju reformasi, sungguh menjadi pengalaman sangat
berharga bagi saya secara pribadi, dimana masih terekam dalam ingatan saya semangat
para mahasiswa untuk memperjuangkan reformasi yang kita nikmati saat ini. Televisi
adalah media yang saya sangat gemari pada saat itu, umur saya 11 tahun untuk
umur segitu sudah cukup mengerti dan memahami apa yang terjadi. Saya masih
ingat Budiman Sudjatmiko (https://id.wikipedia.org/wiki/Budiman_Sudjatmiko)
tahun 1996 dengan semangat membentuk Partai Rakyat Demokrat (PRD), lepas dari
maksud dan tujuannya yang belum saya pahami benar karena pengetahuan saya yang
minim pada waktu itu, namun Budiman Sudjatmiko adalah salah satu orang yang
masih terekam diingatan saya sampai saat ini, semangat dan perjuangannya
mewakili semangat yang dimiliki anak muda, begitu heroik.
proses dan kegemaran saya
terhadap politik sudah ada sejak dahulu, bahkan ketika memasuki bangku
perkuliahanpun saya memilih untuk masuk pada fakultas ilmu sosial dan ilmu
politik (Fisip) serta saya banyak aktif dalam organisasi sosial masyarakat. Banyak
hal yang pernah saya alami begitu membuat saya mencintai Politik dan prosesnya,
sayapun pernah ikut proses kampanye dan menjadi bagian dalam tim pemenangan
walikota dan bupati didaerah Sulut, yang diera saya anak muda enggan
melakukannya.
Sosok Pak Basuki T Purnama atau
sering kita panggil Pak Ahok adalah sosok yang memberikan inspirasi pada banyak
orang, salah satunya saya secara pribadi. Pak Ahok adalah salah satu inspirator
kaum muda seperti saya, untuk lebih “melek” terhadap Pemerintah, karena Pak Ahok
mencerminkan pemimpin yang memiliki birokrasi yang baik dan bebas korupsi.
Ketika saya “melek” Politik,
tujuan saya sih sebenarnya dari dulu sampai sekarang hanya satu berusaha dan
bersama-sama dengan yang lain untuk mewujudkan kebaikan bersama. Apa yang
dimaksud dengan kebaikan yang saya anut ini? Kebaikan itu adalah menghantar Pak
Ahok kembali duduk menjadi Gubernur DKI Jakarta 2017. Saya hanya secuil dari
banyak orang yang berusaha memenangkan Pak Ahok, saya bukan siapa-siapa bahkan
Pak Ahokpun belum tentu mengenal saya. Namun nilai yang saya pegang saat ini
adalah do my best for our governor.
Cerita tentang Relawan dan dinamikanya
Geliat suhu panas politik pilkada
DKI saat ini bukan hanya dimiliki para elite partai dan penguasa, ini juga
terjadi dikalangan bawah bahkan dikalangan relawan. Entah apa tujuan dari
masing-masing mereka, namun saya disini hanya geli tertawa. Biarkan saya
membahas sedikit saja, apa sih yang saya rasakan atau mungkin yang lain
merasakan hal yang sama?
Ketika pak Ahok menjadi role model dan inspirasi bagi kami para
pengaggumnya tentu saja atas perintah alam kami dipersatukan, entah apa
namanya..bisa dkatakan takdir kali ya. Kami merasa memiliki habitat baru, kami
secara tergerak membentuk komunitas baru. Merasa teman bahkan saudara, merasa
dekat walau di dunia maya (kita mencintai makhluk gaib hihihi) intinya merasa
sama-sama punya visi misi untuk memenangkan pak Ahok. Saling bertukar account
sosial media; fb, twitter, path dsb dan mulai membentuk grup-grup Whatsapp. Disitu
layaknya rumah kedua, tidak ada batas waktu untuk bercerita, berbagi pengalaman
bahkan bersepakat bertemu/kopi darat.
Hal yang menggelitik saya adalah
ketika banyak mengenal karakter orang, banyak pengalaman yang saya dapat ketika
ikut berpartisipasi menjadi Relawan pak Ahok. Berbicara Politik terkadang bikin
capek apalagi saya yang dari dulu hidup dilingkungan Politik, melihat grup
whatsapp tang ting tung berbunyi bisa dikatakan 24 jam aktif, membuat saya
tersenyum simpul dan dalam hati saya berkata “ini orang kok ga capek bahas itu terus ya, bu mega aja yg politikus
kelas wahid ga gini-gini banget aktifnya?”
Tetapi tak apa, karena dinamika
yang terjadi saat ini memang perlu sedikit kepedulian yang ekstra.
Ada lagi bagian orang yang
berbagi berita (pesan berantai) yang kadang belum tentu dibaca dengan teliti
tetapi sudah dibagi (share) akibatnya satu, memberi dampak mengedarkan kabar “hoax”
(bohong) dan yang kedua, membagi berita yang sebelumnya sudah pernah dibagi
oleh temannya sendiri. Nah ada lagi orang senang bertemu dan sok akrab dengan artis
yang juga terjun didunia politik, bahkan ketika artis tersebut ikut dalam grup
whatsapp relawan, dia tak segan-segan mengirimkan pesan secara pribadi alias
sok akrab, well is my legal opinion
yah jangan baper (bawah perasaan).
Ada lagi yang gemar ikut
dibelakang pak Ahok (intilin), jadi kemana pak Ahok pergi dia selalu ada, saya
juga sempat berpikir “dia tidak kerja? Atau
kerjaan dia yah itu!”.
Ada juga yang memilih untuk mengekslusifkan diri
menjadi relawan, padahal relawan yah ga ada kastanya,,relawan yah tetap relawan.
Kalau mau batas ekslusif yah mungkin bisa terjun langsung saja menjadi kader
Politik, sehingga bisa menjadi dewa diantara relawan. Ada lagi sosok orang yang
nge-bossy, mungkin secara tidak sadar
memiliki karakter leader namun salah digunakan pada tempat yang salah pula,
kita ini adalah relawan, arti relawan adalah orang yang tanpa dibayar
menyediakan waktu untuk mencapai tujuan organisasi (http://heartsofvolunteers.blogspot.co.id/p/apa-itu-relawan.html)
jadi jangan bertindak bossy antara
relawan karena kita ini sama namun berasal dari lingkungan yang berbeda jadi
bertindaklah sebagai sesama saudara bukan atasan dan bawahan.
Lengkap dari cerita diatas,
mungkin saya mohon maaf, sedikit satir dalam bercerita tentang
karakter orang yang saya temui, tanpa melupakan cita-cita awal kita
bersama. Sudah cukuplah kita
dipertontonkan dengan tingkah elite yang secara tidak sadar memberikan edukasi politik
yang buruk, pengajaran Politik dihalalkan dengan berbagai cara. Bijakkah
juga ikut mempertontonkan hal yang konyol juga?
Namun ada banyak hal baik dari
sedikit hal buruk yang saya temukan pada Pilkada DKI kali ini, satu adalah
kemampuan Pak Ahok untuk membangkitkan semangat saya menjadi lebih peka
terhadap pemerintah, menjadi peka untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih dan
bebas korupsi. Kedua, dapat mengedukasi dan menjadikan saya peka serta mengajak
lingkungan (sahabat, rekan, teman) saya secara bersama-sama terlibat secara
aktif dalam proses politik. Dan yang ketiga, saya dipertemukan dengan
orang-orang yang baik dan yang lebih mengerti proses politik yang benar
(aktifis, profesional, dsb) itu merupakan ilmu yang paling berharga.
Dengan mengutip tweet dari
@bambangaroengbinag Ngomongin politik bisa
bikin capek, namun worthed ketimbang nanggung pegel lima tahun akibat punya
gubernur yg tak jelas trek kerjanya”
(https://twitter.com/aroengbinang/status/784220104313614338).
“Politik ini jalanku, melompat
jauh untuk berperang dengan senjata kejujuran dan apa adanya..”

Salam,
Gina Nelwan

No comments