Pagi itu...














View this post on Instagram
























A post shared by bicarahati (@bicaraahati) on



//www.instagram.com/embed.js

Pagi itu adalah awal, ketika aku mengingat akan dirimu. Suaramu selalu terdengar di telingaku, hembusan nafasmu perlahan merasuk ragaku dan setiap kata demi kata menjadi penghantar tidur yang begitu nyaman.

Kau selalu hadir bagai pagi, dan selalu ada menghantar malam. Dimana rimbaku ketika belum mengenalmu? Bahkan sunyinya hutan dapat aku rasakan ketika dirimu belum temaniku.

Kau adalah sebuah kesalahan yang sangat aku nikmati, berulang kali aku berharap dapat terjatuh dan terjatuh lagi dipelukanmu. Jatuh hati benar adanya, sungguh hal yang memalukan ketika disembari dengan tingkah aneh dan sikap seperti anak kecil.

Aku ingin jatuh berulang kali tepat di hatimu, tidak menjadi bijak karena hati ini untuk milikmu, dan ego terus bersamaku.

Kau adalah semangat-semangat yang mengalir di dalam aliran darahku, membuat jantungku berdetak cepat dan aku sudah tak mengenal letihnya hari.

Pikirku belum cukup untuk terus memikirkanmu, harapku aku menyetuhmu dan merasakan lembut kulitmu dan aroma tubuhmu.

Jatuh hati dirasa bagai candu, beradu sampai gaduh.

Mengadu hati ini hanya untukmu, wahai dirimu yang belum ingin berkata sama sepertiku.

Jangan salahkan hati ini terjatuh, dan jangan salahkan kau mengingat akan setiap kata yang keluar dari bibirku.

Kita bagai energi yang bersinergi satu dengan yang lain, berhasrat yang sama, butuh semangat dan butuh fantasi.

Bila kau bicara akan sebuah kejujuran, apakah kau percaya dengan dustamu? Jangan salahkan pertentangan itu, aku selalu ada disini, bagai sebuah permulaan.

Cerita yang kita nikmati pada setiap malam, apakah akan merubah hati? Dan akan menjadi sebuah kebiasaan bahwa kau begitu membutuhkanku, untuk mengucapkan selamat malam sayang.

.

.

.

#bicarahati #bicarahati #fiksi #fiksimini #boniver #holocene

No comments