Dan akhirnya Kamu sendiri

Adobe_Post_20190304_122026

Hidup ini berpasang-pasangan sudah sewajarnya, bahkan salahsatu tujuan manusia di dunia adalah mencari dan mendapatkan pasangan. Pencarian tersebut bisa saja singkat dan bisa saja membutuhkan waktu yang lama. Tergantung pilihan, usaha dan kerja keras. Kalau ada yang mengatakan semua itu adalah takdir Tuhan, saya tidak setuju. Apapun usaha yang dilakukan di dunia, tergantung dari kemauan manusia dan Tuhan hanya merestuinya.

Memilih pasangan biasanya sesuai dengan keinginan setiap manusia, yang sebelumnya sudah memiliki kriteria tentang sosok yang nanti akan menjadi pasangannya. Setiap orang memiliki kriteria yang berbeda-beda, ada yang ingin dipasangkan dengan orang yang tampan, ada yang ingin dipasangkan dengan orang yang religius, ada yang ingin dipasangkan dengan orang yang memiliki kesukaan dalam bidang musik. Semua memiliki kriteria, maka tak ada yang sama antara milikmu dengan miliknya.

Manusia juga memiliki Kriteria yang umum tentang pasangan, biasanya semua berharap dipasangkan dengan orang yang baik, tidak ada yang ingin memilih orang yang jahat. Semua sepakat dipasangkan dengan orang yang waras pun tidak ada yang ingin dipasangkan dengan orang tidak waras (gila).

Manusiawi dalam duniawi, tergantung kita memaknainya. Tetapi setelah memiliki pasangan, ada banyak kriteria yang lahir setelah pasca berpasangan. Kriteria-kriteria itu tumbuh disaat manusia mulai tidak nyaman dan tidak puas akan kriteria yang hadir sebelumnya. Mengapa demikian? Ternyata ada yang namanya Proses. Kehidupan butuh proses, hidup bersama pasangan pun butuh proses tersebut. Kriteria-kriteria tambahan hadir didalam proses berpasangan, berharap pasangannya untuk lebih perhatian, berharap pasangannya untuk selalu mengerti apa yang dibutuhkan, berharap pasangannya untuk saling menghargai. Banyak kriteria-kriteria yang hadir tersebut yang membuat banyak orang menjadi stress dan bahkan depresi. Kriteria yang diharapkan menjadi sebuah tuntutan untuk berubah, namun berubah untuk menjadi orang lain. Karena karakter mereka tidak seperti itu, mereka berubah karena dituntut untuk berubah. Terjadi penolakan, dan kemudian lahir konflik dan pertentangan.

Disaat ada konflik dan pertentangan, disitu pula kriteria-kriteria yang dibentuk dari awal hilang begitu saja. Semua terfokus pada konflik dan bagaimana mencari jalan keluar yang cepat untuk lepas dari yang namanya pertentangan. Pasangan dianggap sebagai objek yang mengancam, dicurigai dan ditolak. Harapan diawal yang sepakat untuk bersama tiba-tiba menjadi hilang, berdua menjadi amnesia, yang hanya diingat adalah berpisah.

Manusia secara tidak langsung memiliki pertahanan diri secara emosional, manusia hidup dari banyak hal rutin yang dilakukan. Pikiran terbentuk dari rutinitas dalam proses yang dianggap wajar. Sebaliknya, disaat ada hal-hal yang berasal dari luar untuk merubah semua itu, maka stress yang didapat dan sikap untuk berontak.

Dan akhirnya kamu sendiri, berteman dengan diri sendiri. Lebih aman dirasa, karena rutin dan wajar. Kamu tak perlu susah-susah untuk menjadi orang lain dan tak perlu berontak jika dituntut berlebih.

Dan akhirnya kamu sendiri, matipun demikian. Kamu terkubur sendiri, berteman sepi. Sudah sewajarnya memaknai semua ini, kita berakhir sendiri.

Post a Comment

My Instagram

Made with by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates